X- APHP2- ngoding itu ga ribet kenalan sama pseudocode, resep masak ala programmer
emecahkan Masalah Ala Chef & Programmer: Mengenal Pseudoco
Mde
Hai, bestie Hasna Istri James! Pernah dengar kata pseudocode? Kalau kamu anak Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) di SMK Negeri 1 Kedawung Sragen, mungkin ini terdengar asing. Tapi, percaya deh, konsep ini tuh dekat banget sama kehidupan kita sehari-hari, bahkan dengan kegiatan di dapur pengolahan hasil pertanian!
Program itu bukan sekadar kode rumit di layar. Sebelum jadi program yang ciamik, harus ada rancangannya dulu. Nah, pseudocode ini adalah "jembatan" antara ide manusia dengan bahasa komputer.
🍳 Pseudocode: Resep Rahasia Sebelum Coding
Bayangkan begini: di APHP SMK Negeri 1 Kedawung, kalian mau bikin keripik singkong keju yang super renyah dan gurih. Sebelum langsung potong-potong singkong, pastinya kalian bikin resep atau langkah-langkah yang jelas, kan?
Pseudocode itu ibarat resep masakan, tapi untuk komputer.
Resep Masakan: Ditulis pakai bahasa Indonesia yang kita mengerti (misalnya: "Goreng hingga kuning keemasan").
Bahasa Komputer (Coding): Ditulis pakai bahasa yang komputer mengerti (seperti Python, Java, atau C++).
Pseudocode: Ditulis pakai bahasa manusia (Indonesia atau Inggris) tapi dengan struktur yang mirip bahasa komputer (misalnya: IF, THEN, WHILE, INPUT, OUTPUT).
Tujuannya? Supaya flow-nya jelas, mudah dipahami tim, dan gampang banget diterjemahkan jadi kode program sesungguhnya!
🧑💻 Contoh Nyata di APHP SMK N 1 Kedawung Sragen
Yuk, kita ambil contoh kasus yang sering dihadapi di Jurusan APHP, misalnya Sistem Kontrol Kualitas Sortasi Buah (misalnya, Jambu Biji) sebelum diolah menjadi sari buah.
Di gudang APHP, kita ingin membuat program sederhana yang bisa menentukan: Apakah buah (jambu biji) layak diproses atau harus disingkirkan? Kriteria kelayakan kita buat sederhana: beratnya harus di atas 150 gram.
📝 Rancangan Program Sederhana: Sortasi Buah
ALGORITMA SORTASI_BUAH_BERDASARKAN_BERAT
Tujuan: Menentukan status kelayakan buah (Jambu Biji) berdasarkan berat.
Ini dia Pseudocode-nya:
Cuplikan kode
PROGRAM Sortasi_Buah_Otomatis
KAMUS DATA:
BeratBuah : float
BATAS_MIN : integer (150)
ALGORITMA:
TULIS "Masukkan Berat Buah (dalam gram):"
BACA BeratBuah
IF BeratBuah > BATAS_MIN THEN
TULIS "STATUS: Buah Layak Diproses"
ELSE
TULIS "STATUS: Buah Disingkirkan/Grade B"
ENDIF
TULIS "Proses Sortasi Selesai."
Lihat kan? Gampang banget! Kata-kata seperti IF, THEN, ELSE itu adalah kunci yang akan sangat mudah diubah jadi kode Python atau C++. Kita cuma perlu mengganti kata kuncinya sesuai bahasa pemrograman yang dipakai, dan sisanya sama!
🎯 Kenapa Ini Penting buat Anak APHP?
Di era smart agriculture dan industri 4.0, proses pengolahan hasil pertanian itu makin banyak pakai otomatisasi dan sensor.
Mempelajari pseudocode berarti kalian melatih pola pikir logis yang sistematis. Besok kalau kalian merancang sistem kontrol suhu oven pengering hasil pertanian, program otomatisasi blanching sayuran, atau bahkan aplikasi inventaris bahan baku, kalian sudah punya skill dasar untuk merancang langkah-langkahnya secara terstruktur.
Ini bukan cuma urusan coding, tapi urusan efisiensi, kualitas, dan mengurangi human error dalam pengolahan. Keren kan?
Gimana, jadi nggak takut lagi kan sama dunia ngoding? Ternyata semua berawal dari resep yang jelas!
Jangan lupa ya, tinggalin komentar di bawah! Kira-kira, proses di APHP SMK Negeri 1 Kedawung mana lagi nih yang seru kalau dibikin pseudocode? Misalnya, proses penggilingan rempah, atau pengemasan produk? Yuk, sharing ide!
Oh iya, mampir juga ke postingan lain di blog ini ya, siapa tahu ada resep atau tips keren lainnya! Sampai jumpa di artikel berikutnya!
Anda bisa lihat kegiatan siswa di SMK N 1 Kedawung Sragen dalam video ini: Kegiatan Siswa di SMKN 1 Kedawung Sragen.
Video ini relevan karena menampilkan lingkungan SMK Negeri 1 Kedawung Sragen, termasuk kegiatan pertanian, yang menjadi konteks nyata dalam artikel blog ini.
Komentar
Posting Komentar